Belakangan ini di media masa
sedang heboh tentang banjir dimana-mana terutama di ibukota tercinta ini. Kata
BANJIR sudah kehilangan makna, sudah habis tereksploitasi oleh kicauan
jempol-jempol diatas keyboard, oleh reportase-reportase media besar, bahkan
oleh Sang RI 1. Hujan deras yang mengguyur ibukota akhir-akhir ini sedikit
banyak membuat genangan air di jalan-jalan ibukota. Menurut BMKG diperkirakan
curah hujan masih tinggi sampai bulan febuari 2013. Bahkan kemarin saya sempat
mendengar bahwa Istana Kepresidenan ‘kebanjiran’ dan melihat foto bapak
presiden berjalan di istana dengan celana di gulung.
Apa kalian tahu?? Betapa pilunya sang BANJIR?? Ketika ia tahu, dirinya
sudah ‘dijamah’ oleh jutaan mata penduduk Indonesia. Tak ada bagian dari
dirinya yang belum tersentu. Belom lagi kehadiranya yang selalu dihujat,
dicaci-maki bahkan dikutuk oleh semua orang. Tak pernah ada yan suka dengan
kedatanganya.. Asal kalian tahu, ia sendiri tak pernah mau datang. Ia tahu
bahwa kehadiranya hanya akan meresakan dan membuat susah semua orang. Miskin,
Kaya, Rakyat jelata, Pejabat, bahkan Presiden. Tapi apa yang bisa ia lakukan??
Menolaknya?? Hah, Jangan becanda, memang siapa dirinya bisa menolak perintah
langsung dari Sang Maha Pengatur??
Bila Sang Maha Pengatur sudah
menugaskan hujan lebat untuk turun ke bumi dan menyapa penduduk Jakarta
berhari-hari, maka mau tak mau, suka tak suka Banjir akan menemani sang Hujan
Lebat turut bersamanya.
Aku jadi teringat Banjir tahun
2002 dan 2007 yang sempat melanda rumahku sampai 2-3 meter. Rumahku berada di daerah Pondok
Bambu yang bisa di bilang rawan banjir, namun tidak setiap tahun banjir juga.
Orang-orang d sekitar rumahku bilangnya ‘banjir 5 tahunan’ karna tahun 2002
banjir 2 meter di rumahku dan tahun 2007 banjir mencapai 2,5 meter. Tidak
terbayang banjir akan datang setinggi itu. Saat itu rumah ku sedang merenovasi
lantai 2, jadi masih banyak matrial-matrial seperti batu bata, pasir dan semen
disitu sementara kita harus menaikan barang-barang (yang bisa di naikan) yang
di bawah agar tidak terendam banjir. Tak heran mengapa rumah-rumah di daerah
tempat tinggal ku rata-rata ada lantai 2 nya, yaa karna itu. Pada banjir 2007,
saat itu aku duduk di bangku SMA dan aku tidak masuk sekolah akibat banjir
tersebut kurang lebih selama 2 minggu lamanya. Antara senang dan sedih juga
tidak masuk sekolah, senang sebab terpaksa libur sekolah dan sedih karna libur
sekolah’y karena banjir. Dan denger-denger juga SMA ku pun ikut kena banjir
walau tidak sampai masuk ruang kelas.
Apakah kalian pernah terbayang??
Mengungsi di lantai 2 rumah dengan kondisi listrik mati, air mati, dan
kekurangan pasokan makanan. Hanya lampu teplok dan lilin yang menemani dikala
malam menjelang. Sampe-sampe manadangi air hujan untuk sekedar MCK. Menyedihkan
kawan.. Alhamdulillah januari 2013 kemarin rumahku tidak terkena banjir, aku
juga ikut prihatin terhadap masyarakat yang terkena banjir kemarin. karena Aku pun
pernah merasakannya. Untuk itu aku mengajak sebagian teman-teman ku untuk ikut
andil bahkan terjun langsung dalam memberi bantuan kepada korban banjir jakarta,
tidak banyak namun mungkin sedikit mengurangi beban mereka. :D
Mari berdoa kepada Tuhan untuk
negara kita tercinta ini, agar Indonesia ini bisa menjadi negara yang damai,
makmur & sejahtera. Mudah2an para pemimpin kita diberi kesadaran &
kebijaksanaan di dalam memimpin bangsa ini. Mudah2an para pejabat & aparat
negara menjalankan tugasnya dengan baik, jujur, & bertanggungjawab, Mudah2an
masyarakat Indonesia ini mau memperbaiki mentalnya masing2, agar bisa pula
menjadi masyarakat yang disiplin, jujur, & bertanggungjawab. Mudah2an
segala macam bencana & konflik yang sedang terjadi bisa segera diatasi oleh
bangsa ini. Mudah2an Indonesia bisa segera bangkit dari keterpurukan yang
sedang menimpa ini. Mudah2an Indonesia bisa menjadi negara maju & makmur,
serta diakui di seluruh dunia. Amiin


